Sabtu, 08 Mei 2010

BAHASA, MEDIA MASSA, DAN PERSPEKTIVITAS: KAJIAN WACANA KRITIS

Anang Santoso[1]

Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang (UM)

Media merupakan tema menarik untuk selalu dikaji dan didiskusikan, baik dalam kapasitas diskusi yang berat (melalui saluran akademik dan analisis teoretik) maupun gaya diskusi ringan, yang biasanya dilakukan sambil lalu melalui sindiran sinis atau pun dengan gurauan. Demikianlah tulis Sumrahadi dalam kata pengantar buku Media, Budaya dan Moralitas, sebuah buku terjemahan karangan Keith Tester. Ya, masalah media tidak akan pernah berhenti untuk selalu dikupas dari berbagai disiplin ilmu. Dalam mendikusikan media orang akan selalu berpusat pada pertanyaan who says what, to whom, with what channel and with what effect, demikian tambah Sumrahadi mengana-logikan rumusan sederhana dari Harold D. Lasswel.

Tulisan ini juga akan mencoba menjelajahi lorong-lorong persoalan media, khususnya kaitannya dengan bahasa dan perpektivitas. Mengapa media? Ya, media menduduki sebagai unsur wajib dalam peradaban sekarang. Mengapa bahasa? Ya, bahasa merupakan medium utama dalam media. Mengapa perspektivitas? Ya, bahasa yang dipilih akan menentukan sebuah perpektivitas dalam memandang sesuatu. Hanya saja, para konsumen media sering berada pada posisi tidak sadar keberadaannya.

MEDIA MASSA

Bahwa peran media dalam abad informasi ini begitu amat penting setiap orang tidak akan menolak. Bahwa media merupakan conditio sine qua non bagi era informasi setiap kepala akan menyetujuinya. Bahwa media menjalankan fungsi-fungsi: informasi, hiburan, dan pendidikan—seperti pandangan Thornborrow (1999:49)—kita semua akan menganggukkan kepala tanda setuju. Bahkan, keberadaan media dalam keluarga menjadi parameter bagai keluarga, maju atau tidak, modern atau tidak. Media yang dalam teori ekonomi tradisional menjadi kebutuhan tersier akhirnya menjadi kebutuhan primer sejajar dengan makan, sandang, dan papan. Begitu pentingnya peran media dalam kehidupan manusia, media yang pertama lahir untuk memberikan kemudahan bagi manusia akhirnya menjadi sesuatu yang menggeser alur kehidupan manusia. Sudah banyak penelitian menunjukkan hal itu. Sampai-sampai Jalaluddin Rakhmat (1997:235—242) menyebut televisi sebagai institusi media sebagai “Tuhan Pertama” (The First God ). Manusia yang semula menempatkan media dalam mengisi “waktu senggang” mereka, sekarang malahan menempatkan media dalam jadwal utama mereka. Media telah menimbulkan efek penjadwalan kegiatan pada masyarakat, mereorganisasikan kegiatan sehari-hari yang bisa saja menjadi tidak produktif karena telah mengubah siklus kegiatan rutinnya.

Media massa adalah situs yang amat kuat untuk produksi dan sirkulasi makna-makna sosial. Media massa menyediakan jalan masuk ke berbagai-bagai informasi. Media massa akan merepresentasikan kemungkinan besar kekuatan dalam masyarakat kita. Media massa dapat menyeleksi berita: siapa yang masuk media, siapa yang dikedepankan atau didahulukan—sekaligus siapa yang dikebelakangkan atau dikemudiankan--dalam berita, bagaimana peristiwa itu diceritakan, siapa yang diwawancarai, dan sebagainya.

Media massa harus dipahami sebagai sebuah institusi yang kompleks. Institusi ini dicirikan dengan seperangkat proses, praktik, dan konvensi tempat masyarakat di dalamnya dikembangkan dalam konteks sosial dan budaya tertentu. Praktik-praktik itu akan berpengaruh terhadap apa yang dirasakan dan apa yang diharapkan konsumen media. Praktik-praktik itu juga akan berpengaruh terhadap bagaimana cara melihat terhadap realitas kehidupan. Misalnya, media massa yang sering dikuasai cara berpikir Barat memandang dunia seperti orang barat memandangnya

Media massa selalu diambil begitu saja sebagai bagian integral dari banyak kehidupan masyarakat. Mereka secara bawah sadar meniru, mengulangi, menggunakan apa yang ada dalam media massa. Representasi yang terjadi dalam media diambil begitu saja menjadi apa yang disebut akal sehat. Para konsumen tidak pernah lagi mengkritisi apa yang sudah dipilihnya itu. Mereka akan selalu menganggap bahwa apa yang diperolehnya dari media itu adalah sebuah kebenaran mutlak, bukan sebuah pilihan.

Para pengamat, sudah banyak mengemukakan beraragam keluh kesahnya berkenaan dengan peran media dalam kehidupan masyarakat. Ada yang menyebut bahwa media telah menunjukkan superioritas ideologi Barat. Media telah menciptakan wacana dominan bagi masyarakat Timur yang terjajah. Wacana kebenaran adalah informasi yang dihasilkan kantor berita Barat. Mereka telah menciptakan rejim kebenaran bagi masyarakat di negara-negara berkembang. Media massa, terutama TV, juga dipandang telah menimbulkan pemiskinan imajinasi sosial. TV juga telah memasarkan pesan-pesan hedonisme dan pemujaan konsumsi dan materialisme. Banyak acara yang amat menonjolkan pemujaan dan eksploitasi tubuh. TV juga dituduh telah menghancurkan ruang private bagi pribadi dan keluarga. Bahkan, TV juga dipersalahkan dalam melanggengkan budaya orality sehingga budaya baca-tulis (literacy) menjadi tidak terpupuk secara baik. Dan sebagainya dan seterusnya.

Bagaimana kita menempatkan diri dalam sebuah era di mana kehadiran media sudah tidak terhindarkan lagi. Ada yang menyarankan, misalnya kelompok Freirean, perlunya melahirkan media tanding (counter media), yakni media rakyat, untuk memberikan imbangan terhadap kehadiran mereka. Ada yang menyarankan perlunya mengembangkan sikap-sikap kritis, eksploratoris, selektif, intelektualitas, rasionalitas, kedewasaan mental, dan imajinatif.

Ada baiknya kita mengapresiasi dua pandangan atau paradigma—positivisme dan konstruksionisme--dalam melihat peran media. Marilah kita memperhatikan dua pandangan tersebut.

No

Aspek

Positivisme

Konstruksionisme

1

Hakikat fakta

Ada fakta yang riil yang diatur oleh kaidah-kaidah yang berlaku universal.

Fakta merupakan konstruksi atas realitas. Kebenaran suatu fakta bersifat relatif, berlaku sesuai konteks tertentu

2

Hakikat media

Media sebagai saluran pesan.

Media sebagai agen konstruksi pesan.

3

Hakikat berita

Berita adalah cermin dan refleksi dari kenyataan. Berita harus sama dan sebangun dengan fakta yang diliput.

Berita tidak mungkin cermin dan refleksi realitas. Berita yang terbentuk merupakan konstruksi atas realitas.

4

Sifat berita

Berita bersifat objektif, menyingkirkan opini dan pandangan subjektif dari pembuat berita.

Berita bersifat subjektif. Opini tidak dapat dihilangkan karena saat meliput wartawan melihat dengan perspektif dan pertimbangan subjektif.

5

Hakikat wartawan

Wartawan sebagai pelapor.

Wartawan sebagai partisipan yang menjembatani keragaman subjektivitas pelaku sosial.

6

Produksi berita

Nilai, etika, opini, dan pilihan moral berada di luar proses peliputan berita.

Nilai, etika, atau keberpihakan wartawan tidak dapat dipisahkan dari proses peliputan dan pelaporan suatu peristiwa.

7

Penafsiran pembaca

Berita diterima sama dengan apa yang dimaksudkan oleh pembuat berita.

Khalayak mempunyai penafsiran sendiri yang bisa jadi berbeda dari pembuat berita.

Sumber: Eriyanto (2002)

Kelompok konstruksionis sekarang banyak mendominasi cara pandang terhadap media. Bagi saya, sikap dan posisi yang seharusnya diambil masyarakat dalam memandang dan memperlakukan media juga sebaiknya berlandaskan pada perspektif konstruksionisme itu. Artinya, kehadiran media di rumah kita haruslah dipandang sebagai salah satu informasi saja, bukan sebagai penyedia segala-galanya informasi yang kita butuhkan.

Bahasa dalam Media Massa

Hubungan bahasa dan media erat sekali, keduanya merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Perkembangan bahasa di zaman modern ini banyak sekali ditentukan oleh media massa. Oleh karena itu, bahasa media selalu menarik perhatian para linguis, khususnya linguis terapan dan linguistik kritis, sosiolinguis, dan analis wacana kritis.

Menurut Bell (1995:23) terdapat empat alasan ketertarikan pada bahasa media massa. Pertama, media massa menyediakan sumber data kebahasaan yang dapat diperoleh secara amat mudah untuk tujuan penelitian dan pengajaran. Para pengajar dan pendidik yang kreatif sering menggunakan media massa untuk sumber bahan pengajarannya di depan kelas. Kedua, media massa merupakan institusi linguistik yang penting. Apa saja yang dihasilkan oleh media dalam skala besar itu sangat mudah didengar, dibaca, disimak, dan dinikmati oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Melalui media massa dapat direfleksikan dan dibentuk suatu penggunaan bahasa dan sikap bahasa yang dikehendaki oleh komunitas tutur. Ketiga, bahasa yang digunakan dalam media massa secara linguistik sangat menarik. Karakteristik bahasa media menarik untuk dicermati. Keempat, media massa merupakan institusi sosial yang penting. Media massa merupakan penghadir persoalan-persoalan budaya, ekonomi, politik, dan kehidupan sosial. Wacana media selalu berkait dengan penghadiran fakta “apa saja yang diungkapkan tentang masyarakat” dan pembentukan citra “apa saja yang dapatdisumbangkan pada masyarakat”.

Satu aspek penting dan menarik kekuasaan media dari sudut pandang linguistik adalah cara masyarakat dan peristiwa itu dilaporkan. Terdapat aspek representasi yang membuat hasil pelaporan tiap-tiap surat kabar menjadi berbeda. Saat para wartawan dan redaktur mengambil etos profesional: wartawan mengoleksi fakta, melaporkannya secara objektif, surat kabar kemudi-an menghadirkannya secara terbuka dan tanpa bias dalam bahasa yang dirancang dengan tidak ambigu, tidak terdistorsi, dan dapat dipercaya oleh pembaca, Fowler mengambil posisi yang berseberangan. Fowler (1991:1) secara provokatif merumuskan hakikat isi surat kabar sebagai berikut.

I take the view that the ‘content’ of newspapers is not facts about the world, but in a very general sense ‘ideas’. I will use other terms as appropriate: ‘beliefs’, ‘values’, ‘theories’, ‘propositions’, ‘ideology’. My major concern is with the role of linguistic strukture in the construction of ideas in the press; I will show that language is nor neutral, but a highly constructive mediator.

Mungkin kita menganggap bahwa Fowler itu terlalu provokatif. Redaktur surat kabar bisa saja akan mengambil sikap oposan atau mencaci maki pandangan Fowler tersebut. Akan tetapi, marilah kita berpikir jernih dan kritis terhadap pandangan Fowler tersebut.

Ada baiknya kita mengambil sikap bahwa pandangan Fowler itu adalah sikap kasih sayangnya kepada para penikmat media massa, khususnya media cetakan. Dalam pandangan Fowler, berita itu dikonstruksi secara sosial. Peristiwa apa yang dilaporkan bukanlah sebuah refleksi dari kepentingan peristiwa itu secara instrinsik, tetapi mengungkap operasi dari seperangkat kriteria kriteria seleksi yang kompleks dan artifisial.

Berbagai struktur linguistik dapat menentukan bagaimana peristiwa itu dilaporkan. Dengan demikian, sebuah berita di surat kabar dapat membuat versi atau pandangan yang berbeda terhadap peristiwa yang sama. Dari judul berita, misalnya, kita dapat segera melihat perbedaan dalam cara peristiwa itu diantarkan. Peran struktur linguistik dalam konstruksi ide-ide di surat kabar menunjukkan bahwa bahasa itu tidaklah netral, tetapi merupakan mediator yang amat konstruktif.

Berita itu secara sosial dikonstruksikan. Peristiwa yang dilaporkan bukanlah refleksi dari kepentingan intrinsik berita itu, tetapi lebih mengungkapkan pelaksanaan seperangkat kriteria seleksi yang kompleks dan artifisial. Berita-berita yang sudah diseleksi adalah subjek proses-proses transformasi ketika proses-proses itu dikodekan untuk publikasi. Seleksi dan transformasi itu dibimbing oleh referensi ke arah ide-ide dan kepercayaan tertentu. Bahkan, Fowler menegaskan bahwa berita adalah sebuah praksis, sebuah wacana yang jauh dari refleksi realitas sosial dan fakta empiris yang netral. Dalam berita terjadi campur tangan dalam konstruksi sosial realitas.

Dalam konteks ini ada baiknya kita menengok pandangan Sapir, Whorf, dan Halliday. Mereka berpendapat bahwa ada hubungan kausal antara struktur semantis dan kognisi, artinya bahasa mempengaruhi pikiran. Struktur bahasa menyalurkan pengalaman mental tentang dunia. Pilihan struktur linguistik tertentu akan menyalurkan pengalaman mental tertentu.

Berita adalah representasi dunia dalam bahasa. Karena bahasa adalah kode semiotis, bahasa akan menentukan struktur nilai, sosial, dan ekonomis sebagai sumbernya terhadap apa saja yang direpresentasikan. Berita adalah sebuah representasi dalam pengertian konstruksi. Berita bukanlah refleksi fakta yang “bebas nilai”.

Fowler berpendapat bahwa pilihan terhadap bentuk linguistik tertentu dalam teks—apakah wording, pilihan sintaksis, dan sebagainya—memiliki alasannya masing-masing. Mereka itu selalu berbeda dalam mengatakan sesuatu yang sama, mereka itu tidaklah acak, pilihan itu bukanlah kebetulan. Perbedaan dalam ekspresi membawa perbedaan ideologis.

Wacana Akal Sehat atau Wacana Dominan

Media memiliki peran yang amat besar dalam membentuk apa yang disebut dengan wacana akal sehat atau wacana dominan. Kecenderungan untuk merepresentasikan masyarakat, situasi, dan peristiwa dalam cara-cara yang biasa atau sama yang dapat diprediksi dari kode linguistiknya selanjutkan ditetapkan dalam kebudayaan kita sebagai “cara berbicara” atau “cara menulis” yang amat biasa terhadap ciri-ciri masyarakat atau peristiwa itu. Konsep ini berkenaan dengan apa yang disebut representasi wacana akal sehat atau wacana dominan. Apa yang muncul di koran segera menjadi bahan rujukan oleh para konsumennya. Apa yang menjadi “penting” dalam koran segera menjadi apa yang “penting” dalam kehidupan masyarakat. Apa yang penting dalam koran segera menjadi kerangka representasi perilaku dan cerita selanjutnya.

Kita tentunya masih ingat kasus di Negeri Paman Sam tentang skandal yang menggunakan akhiran gate. Sejak Nixon dan Watergatenya muncul dalam pers, muncullah kisah serupa seperti Irangate, Whitewatergate, Zippergate, dan Fornigate. Di Inggris pernah ramai dengan kasus Dianagate dan Camilagate. Bahkan, istilah serupa muncul juga di Indonesia pada era pemerintahan Presiden Gus Dur dengan Buloggate dan Bruneigate. Wacana yang muncul kemudian itu mengambil secara parsial kata gate dari kasus Watergate. Padahal, kata Watergate adalah satu kesatuan bentukan dari sebuah nama tempat.

Jika kita merujuk kembali kepada pandangan Fowler di atas, sikap fatalistik dalam menerima berita terhadap sebuah sumber berita bukanlah sikap yang bijaksana. Seorang konsumen berita harus mengambil sikap bahwa sebuah surat kabar tertentu adalah salah satu sumber berita, bukan segala-galanya sumber berita. Jika dalam rumah kita setiap hari hadir sebuah surat kabar—misalnya kita berlangganan—kemudian kita menganggap bahwa surat kabar itu adalah satu-satunya sumber berita, kita sebenarnya telah menjebakkan diri dalam sebuah perspektif yang dibangun oleh surat kabar tersebut.

Pada era sekarang, tahun 2004, misalnya, surat kabar telah membentuk wacana dominan berkenaan dengan kasus Akbar, yakni Akbar adalah orang yang bersalah, koruptor, seharusnya dipenjara, mundur dari Ketua DPR, mundur dari Ketua Partai Golkar, dan sebagainya. Wacana dominan itu telah menjadi bahan rujukan kita semua dalam memberikan penilaian terhadap kasus Akbar terlepas dari apakah Akbar Tanjung itu memang melakukan korupsi atau tidak.

Analisis Wacana Kritis sebagai Pisau Bedah

Analisis wacana kritis (AWK) lahir untuk memberikan tambahan—kalau tidak ingin dikatakan tandingan—keberadaan analisis wacana yang lebih dahulu lahir yang lebih banyak bersifat deskriptif. Beberapa tokoh linguistik kritis, seperti Fowler (1985, 1986, 1996), Fairclough (1985, 1989, 1995), Kress (1985), Sykes (1985), van Dijk (1985), West & Zimmerman (1985), Birch (1986), dan Wodak (1996) memandang bahwa fenomena komunikasi dan interaksi yang “nyata” lebih banyak diwarnai oleh adanya fenomena-fenomena “ketidakteraturan”, “kesenjangan”, “ketidakseimbangan”, “perekayasaan”, dan “ketidaknetralan” dari isu-isu ketidakadilan dalam gender, politik, ras, media massa, kekuasaan, dan komunikasi lintas budaya. Wacana yang lahir lebih banyak berkutat dengan persoalan sosial politik dan jauh meninggalkan wacana-wacana akademis yang “ideal”.

Untuk menggali berbagai persoalan penggunaan bahasa yang realistik, Fowler menyarankan pemanfaatan linguistik kritis. Kata “kritis” dapat dimaknai sebagai ‘evaluasi negatif’, mesipun kenegatifan itu tidak perlu menjadi tujuan linguistik kritis. Linguistik kritis adalah sebuah penyelidikan ke dalam relasi antara tanda, makna, dan kondisi sosial historis yang mengatur struktur semiotik sebuah wacana dengan menggunakan jenis analisis linguistik tertentu. Untuk kepentingan linguistik kritis, linguistik fungsional-sistemik Halliday menyediakan banyak informasi untuk analisis.

Berkenaan dengan wacana yang dihasilkan oleh “komunikasi yang timpang” di atas, sejalan dengan pandangan Fowler, van Dijk menyarankan penggunaan paradigma yang relevan yakni paradigma kritis. Analisis wacana kritis—salah satu wujud paradigma kritis itu—banyak digunakan dalam menjelas-kan fenomena-fenomena tersebut. Paradigma kritis—oposisi dari paradigma deskriptif--dibangun dari asumsi bahwa fenomena bahasa dalam komunikasi bukanlah fenomena yang netral yang bebas dari persoalan kekuasaan dan ideologi. Paradigma deskriptif dalam kajian linguistik terhalang saat menjelaskan isu-isu ideologi dan politik yang sering amat kabur.

Birch (1996) berpendapat bahwa linguis kritis percaya bahwa pilihan bahasa dibuat menurut seperangkat kendala-kendala politis, sosial, kultural, dan ideologi. Implikasinya adalah bahwa masyarakat dapat dimanipulasi, ditahan dalam aturan yang baik yang dikehendaki, dan dinilai peran dan statusnya ke dalam dikotomi atasan-bawahan melalui sistem strategi sosial yang melibatkan aspek-aspek kekuasaan, aturan, subordinasi, solidaritas, kohesi, antagonisme, kesenangan, dan sebagainya yang semuanya merupakan bagian integral dari sistem kontrol masyarakat.

Menurut van Dijk (1985) fitur-fitur wacana hanyalah menjadi gejala (symptoms) dari persoalan-persoalan yang lebih besar, seperti ketidakadilan, perbedaan kelas, gender, rasisme, kekuasaan, dan dominasi yang melibatkan lebih dari sekedar teks dan tuturan. Dengan demikian, pilihan bentuk aktif-pasif dalam judul berita, misalnya, akan memberikan pelbagai hal berkenaan dengan dimensi tersembunyi yang ingin diperjuangkan oleh redaktur media massa. Dalam praktiknya, analisis wacana kritis bekerja melalui tiga tahapan analisis yang bersifat simultan, yakni (1) analisis teks bahasa, (2) analisis praksis wacana, dan (3) analisis praksis sosiokultural. Hasilnya adalah ditemukannya dimensi tersembunyi dari penggunaan bahasa yang di dalamnya penuh muatan kekuasaan, ideologi, dan perpektivitas.

Wacana media massa, misalnya, yang sering menjadi tirani kognitif dapat kita selami. Kita semakin sadar bahwa fungsi ideologis utama dari pesan media itu sering tidak terletak pada struktur lahir pernyataan-pernyataan yang bersifat propagandistik, tetapi justru—mengutip Sholle--in the use of distorted language (Latif & Ibrahim, 1997:147).

Surat Kabar dan Perpektivitas

Bahasa menduduki peran sentral bagi media dalam mengkonstruksi para pembaca/pendengarnya. Ambillah contoh dua buah judul berita dari sebuah berita yang sama. Ketika Gus Dur dan Wiranto berkunjung ke Kiai Abdullah Faqih, muncul pemberitaan dengan judul yang tidak sama: Kompas membuat judul “Wiranto bersama Gus Dur Menemui Kiai Abdullah Faqih”. Sementara itu Jawa Pos mengambil judul “Gus Dur Gandeng Wiranto ke Kiai Faqih: Satu Mobil Saat Perjalanan Surabaya-Tuban”. Ketika Mahkamah Agung membebaskan Akbar Tanjung dari segala tuntutan, dua surat kabar memberitakan: Jawa Pos membuat judul “Akbar Senang, 49 Mahasiswa Luka”, sedangkan Republika melaporkannya dalam dua berita dengan judul “Akbar Bebas” dan “Bentrok dengan Aparat, 73 Mahasiswa Luka”.

Kita tentunya dapat melihat perbedaannya dari (1) pilihan kata-kata dalam judul, (2) pilihan verba dalam tubuh berita, (3) pilihan representasinya, dan (4) atribusi dari sumber informasi. Hasil analisis kita akan menghasilkan sebuah perspektivitas yang diambil kedua surat kabar itu terhadap berita Gus Dur-Wiranto atau Wiranto-Gus Dur, termasuk juga dalam kasus Akbar Tanjung.

Dalam berita Gur Dur-Wiranto, Kompas lebih menonjolkan atau mengutamakan peran Wiranto meskipun dari kata-kata “Wiranto bersama Gus Dur” terkesan adanya kebersamaan atau mempunyai kepentingan yang sama. Sementara itu, Jawa Pos lebih menonjolkan Gus Dur. Dari kata-kata “Gus Dur Gandeng Wiranto…” terkesan bahwa Gus Dur yang mempunyai kepentingan mengajak Wiranto.

Dalam berita pembebasan Akbar Tanjung, Jawa Pos mengemas dua peristiwa yang sebenarnya tidak berada pada lokasi yang sama dengan satu judul berita. Judul “Akbar Senang, 49 Mahasiswa Luka” menimbulkan adanya kesan arogansi Akbar terhadap mahasiswa yang luka. Meskipun dalam judul terdapat tanda baca koma, judul itu tetap memberi kesan adanya hubungan sebab akibat dari “49 mahasiswa luka” dan “Akbar senang”. Dari analisis ini, kita tentunya dapat mengambil kesimpulan tentang posisi Jawa Pos dalam kasus Akbar ini. Sementara itu, Republika menyajikan dua peristiwa dari dua lokasi yang berbeda ke dalam dua judul berita. Yang pertama, berita tentang bebasnya Akbar yang disambut suka cita para pendukung dan keluarganya. Yang kedua, berita tentang mahasiswa yang memprotes keputusan Mahkamah Agung untuk membebaskan Akbar. Dari analisis ini, kita tentunya juga mengetahui posisi yang diambil Republika dalam kasus Akbar.

Dua contoh di atas memberikan pemahaman kepada kita bahwa surat kabar telah membentuk perspektivitas tertentu. Sementara itu, bagi pembacanya, perspektivitas itu secara bawah sadar atau bahkan tidak sadar diterima begitu saja tanpa sikap kritis. Dalam analisis perspektivitas, peran analisis wacana kritis sebagai pisau bedah menjadi sebuah kebutuhan yang tidak begitu mudah untuk dikesampingkan.

Daftar Rujukan

Bell, A. 1995. Language and the Media. Dalam Grabe, W. (Ed.), Annual Review of Applied Linguistics Volume 15: Survey of the Field of Applied Lingu-istics. Cambridge: Cambridge University Press.

Birch, D. 1996. Critical Linguistics as Cultural Process. Dalam James, J.E. (Ed.), The Language-Culture Connection. Singapore: SEAMEO Regional Language Centre.

Eriyanto. 2002. Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: Penerbit LkiS.

Fairclough, Norman. 1985. Critical and Descriptive in Discourse Analysis. Jo-urnal of Pragmatics, 9: halaman 739—763.

Fairclough, Norman. 1989. Language and Power. New York: Longman Group UK Limited.

Fairclough, Norman. 1995. Critical Discourse Analysis: The Critical Study of Language. Harlow-Essex: Longman Group Limited.

Fowler, Roger. 1985. Power. Dalam van Dijk (Ed.), Handbook of Discourse Analysis Volume 4: Discourse Analysis in Society (hal. 61—82). London: Academic Press.

Fowler, Roger. 1986. Linguistic Criticism. Oxford: Oxford University Press.

Fowler, Roger. 1991. Language in the News: Discourse and Ideology in the Press. London & New York: Routledge.

Fowler, Roger. 1996. On Critical Linguistics. Dalam Caldas-Coulthard, C.R. & Coulthard, M. (Eds.), Texts and Practices: Reading in Critical Discourse Analysis (hal. 3—14). London: Routledge.

Ibrahim, Idi Subandy & Malik, Dedy Djamaluddin (Eds.).1997. Hegemoni Budaya. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.

Kress, G. 1985. Ideological Structures in Discourse. Dalam van Dijk, T.A. (Ed.), Handbook of Discourse Analysis Volume 4: Discourse Analysis in Society. London: Academic Press.

Latif, Yudi & Ibrahim, Idy Subandy. 1997. Media Massa dan Pemiskinan Ima-jinasi Sosial. Dalam Ibrahim, Idy Subandy & Malik, Dedy Djamaluddin (Eds.), Hegemoni Budaya. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.

Rakhmat, Jalaluddin. 1997. TV sudah Menjadi The First God. Dalam Ibrahim, Idi Subandy & Malik, Dedy Djamaluddin (Eds.), Hegemoni Budaya. Yog-yakarta: Yayasan Bentang Budaya.

Santoso, Anang. 2003. Bahasa Politik Era Pasca Orde Baru. Jakarta: Penerbit Wedatama Widya Sastra.

Sykes, M. 1995. Discrimination in Discourse. Dalam van Dijk, T.A. (Ed.), Handbook of Discourse Analysis Volume 4: Discourse Analysis in So-ciety. London: Academic Press.

Tester, Keith. 2003. Media, Budaya, dan Moralitas. Terjemahan oleh Muham-mad Syukri. Yogyakarta: Juxtapose.

Thornborrow, Joanna. 1999. Language and the Media. Dalam Thomas, Linda & Wareing, Shan (Eds.), Language, Society, and Power: An Introduction. London & New York: Routledge.

Van Dijk, T.A. 1985. Introduction: The Role of Discourse Analysis in Society. Dalam van Dijk, T.A. (Ed.), Handbook of Discourse Analysis Volume 4: Discourse Analysis in Society. London: Academic Press.

West, C. & Zimmerman, D.H. 1985. Gender, Language and Discourse. Dalam van Dijk, T.A. (Ed.), Handbook of Discourse Analysis Volume 4: Dis-course Analysis in Society. London: Academic Press.

Wodak, R. 1996. Disorders of Discourse. Harlow-Essex: Addison Wesley Longman Limited.



[1] Dr. Anang Santoso adalah dosen Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar